Batas itu Bernama Dirimu

Pagi ini seperti biasa, saya pergi ke kampus tercinta ditemani motor kesayangan saya. Berbeda dengan biasanya, saya kebetulan melihat seorang bapak-bapak yang sedang berjalan di pinggir jalan. Terus anehnya apa? Bapak tersebut buta. Ia berjalan dengan bantuan tongkat khas untuk membantu orang buta. Apa yang sedang dilakukan bapak itu, berani berjalan di pinggir jalan raya padahal dia buta? Wah, ternyata dia sedang mencari nafkah dengan berjualan kerupuk yang digendong di punggungnya.

Luar biasa bukan? Kejadian itu membuat saya berfikir sepanjang jalan menuju kampus. Waw. Bapak tersebut buta, namun masih bisa menantang jalan raya dan berusaha mencari nafkah yang mungkin untuk keluarganya. Apa yang sudah saya lakukan selama ini? Keterbatasannya tidak menghalangi dia untuk berkembang dan berusaha, namun saya yang Alhamdulillah tidak kekurangan sesuatu pun kadang masih berdalih dan menyerah.

Dari bapak tersebut saya jadi mendapatkan semangat baru dan pemahaman baru. Bukan keterbatasan yang menghalangi kita untuk berkembang dan berusaha, melainkan diri kita sendiri yang membatasinya. Jangan terlalu banyak berdalih pada keterbatasan yang kita miliki, lakukanlah sebaik yang kita bisa dan jangan menyerah. Terima kasih pak atas pelajaran yang diberikan. Semoga Allah memberikan rahmatnya padamu. 🙂

Nanda Firdaus

Graduate Student in Information System Management at Carnegie Mellon University. Previously worked as Marketing Technology Analyst and Data Analyst in Traveloka.com. Passionate about new technology and have interest in data, business and investment. Ex-Microsoft Student Partner. Graduated from Information System, Faculty of Computer Science, Universitas Indonesia.

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *